The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75-4%, BI Rate 5,75% Masih Bisa Bertahan

The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75-4%, BI Rate 5,75% Masih Bisa Bertahan

BICARAKEUANGAN.COM — Federal Reserve menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4 persen, sesuai ekspektasi pasar. Sinarmas Sekuritas menilai Bank Indonesia masih punya ruang menahan BI Rate di 5,75 persen, dengan arah kebijakan berikutnya bergantung pada ketahanan rupiah terhadap dolar AS yang berpotensi tetap tinggi.

Kenaikan suku bunga Federal Reserve menambah tekanan bagi bank sentral negara berkembang, termasuk Bank Indonesia. Sinarmas Sekuritas dalam analisisnya pada Kamis (17/9/2026) menyebut The Fed menaikkan Fed Funds Rate 25 bps ke level 3,75-4 persen, persis seperti yang diantisipasi pelaku pasar.

Yang jadi soal bukan kenaikannya, melainkan nada kebijakan bank sentral AS yang masih hawkish. Sinarmas melihat ruang kenaikan lanjutan satu hingga dua kali tetap terbuka pada pertemuan Oktober dan Desember.

Dolar AS dan US Treasury Masih Berpotensi Tinggi

Pesan hawkish The Fed berpotensi menjaga imbal hasil US Treasury dan dolar AS tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Kombinasi keduanya adalah kombinasi yang tidak nyaman bagi mata uang negara berkembang.

Bagi Indonesia, tekanan utama datang lewat jalur kurs. Rupiah yang melemah terhadap dolar AS mempersempit ruang BI untuk melonggarkan kebijakan, karena pelemahan berlebihan bisa memicu imported inflation dan mengganggu stabilitas harga.

BI Rate di 5,75% Masih Punya Ruang Bertahan

Meski tekanan eksternal meningkat, Sinarmas Sekuritas menilai Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Level ini dinilai masih cukup menarik secara riil dibandingkan inflasi domestik.

Keputusan berikutnya akan sangat bergantung pada ketahanan rupiah. Selama rupiah mampu menahan pelemahan dan cadangan devisa memadai, BI punya opsi menahan rate lebih lama tanpa harus ikut menaikkan.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Pasar

Bagi investor obligasi, spread imbal hasil SUN terhadap US Treasury menjadi kunci. Selama selisihnya masih lebar, minat asing terhadap surat utang Indonesia cenderung bertahan meski yield global naik.

Di pasar saham, sektor perbankan dan properti jadi yang paling sensitif terhadap arah BI Rate. Skenario BI menahan rate di 5,75 persen relatif netral bagi emiten perbankan, karena margin bunga bersih tidak tertekan lebih jauh.

Pelaku usaha yang punya utang berbunga mengapresiasi skenario ini. Tanpa kenaikan lanjutan, biaya bunga kredit modal kerja tidak naik, sehingga tekanan ke margin usaha lebih terkendali.

Yang Perlu Dicermati ke Depan

Dua hal yang patut dipantau adalah data inflasi AS dan pergerakan indeks dolar. Jika inflasi AS kembali panas, peluang kenaikan Fed Funds Rate pada Oktober menguat, dan tekanan ke rupiah ikut meningkat.

Sebaliknya, jika data tenaga kerja dan inflasi AS melunak, The Fed bisa menghentikan kenaikan lebih cepat dari perkiraan. Skenario itu akan memberi BI ruang lebih lega untuk menjaga stabilitas tanpa mengorbankan pertumbuhan.

Sinarmas Sekuritas menegaskan bahwa arah BI Rate ke depan bukan lagi soal mengikuti The Fed secara mekanis. Yang menentukan adalah seberapa kuat rupiah menahan gempuran dolar AS dalam beberapa bulan mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index