Pupuk Indonesia Naik ke Peringkat 14, HET Pupuk Subsidi Turun 20 Persen

Pupuk Indonesia Naik ke Peringkat 14, HET Pupuk Subsidi Turun 20 Persen
Pupuk Indonesia Naik ke Peringkat 14, HET Pupuk Subsidi Turun 20 Persen

BICARAKEUANGAN.COM — PT Pupuk Indonesia (Persero) menembus peringkat 14 Fortune Indonesia 100 2026 dengan pendapatan Rp 90,4 triliun pada 2025, naik dari Rp 81,6 triliun setahun sebelumnya. Kenaikan ini lahir dari transformasi tata kelola yang berujung pada penurunan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi sebesar 20 persen sejak Oktober 2025.

Direktur Operasi Pupuk Indonesia, Dwi Satriyo Annurogo, menyebut pencapaian itu sebagai buah penguatan fundamental perusahaan lewat transformasi yang dijalankan bersama pemerintah dan Danantara Indonesia. Menurut dia, transformasi diarahkan agar industri pupuk makin tangguh menopang ketahanan pangan nasional.

Dalam pemeringkatan Fortune Indonesia 100 tahun 2026, perseroan menempati urutan 14 berdasarkan pendapatan tahun fiskal 2025. Posisi itu sekaligus menjadikan Pupuk Indonesia BUMN dengan pendapatan terbesar ke-8 di Indonesia.

Jejak kenaikannya juga terlihat di tingkat regional. Pada Fortune Southeast Asia 500 2026, peringkat Pupuk Indonesia naik satu tingkat dari 69 menjadi 68.

Dua Perpres di Balik Perubahan

Pemerintah menerbitkan Perpres Nomor 6 Tahun 2025 dan Perpres Nomor 113 Tahun 2025 sebagai fondasi transformasi. Perpres 6/2025 menyederhanakan tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi agar distribusi lebih cepat dan tepat sasaran.

Dampaknya terlihat pada realisasi penyaluran pupuk subsidi 2025 yang mencapai 8.110.571 ton. Angka itu tumbuh 10,68 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sementara Perpres 113/2025 mengubah mekanisme subsidi pupuk dari skema cost-plus menjadi marked-to-market, disertai pembayaran bahan baku di muka. Kebijakan ini menekan biaya operasional sekaligus menjaga ketersediaan bahan baku saat dibutuhkan petani.

Yang Berubah di Kantong Petani

Hasil transformasi tidak berhenti di laporan keuangan korporasi. Sejak Oktober 2025, Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi turun 20 persen.

Bagi petani pengguna pupuk subsidi, penurunan itu langsung memangkas biaya produksi per musim tanam. Pasokan yang lebih lancar juga mengurangi risiko kelangkaan pupuk di musim puncak tanam.

Dwi Satriyo menegaskan transformasi akan diteruskan. "Ke depan, transformasi akan terus kami lanjutkan untuk membangun Pupuk Indonesia yang lebih efisien, agile, dan kompetitif," ujarnya lewat keterangan tertulis.

Modal Menjaga Ketahanan Pangan

Pertumbuhan pendapatan dari Rp 81,6 triliun ke Rp 90,4 triliun memberi ruang fiskal lebih besar bagi perseroan untuk menjaga pasokan pupuk nasional. Posisi sebagai BUMN pendapatan terbesar ke-8 menegaskan peran Pupuk Indonesia dalam rantai produksi pangan.

Dengan HET yang lebih murah dan distribusi yang lebih rapi, hasil transformasi ini pada akhirnya bermuara pada satu hal: biaya menanam yang lebih ringan bagi petani di seluruh Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index