BICARAKEUANGAN.COM — Jagung, tanaman pangan yang selama ini identik dengan sumber karbohidrat murah, ternyata masuk daftar tanaman berbahaya versi Royal Horticultural Society (RHS). Konsumsi jagung sebagai makanan utama dalam jangka panjang tanpa pengolahan yang memungkinkan tubuh menyerap niasin dapat memicu pellagra, kondisi yang berujung pada dermatitis, diare, gangguan neurologis, hingga kematian. Sejumlah tanaman beracun lain juga tumbuh alami di wilayah Indonesia, dari bintaro hingga kecubung.
Racun pada tumbuhan merupakan mekanisme pertahanan alami terhadap ancaman lingkungan. Dampaknya bagi manusia tidak bisa diremehkan, mulai dari iritasi kulit, gangguan sistem saraf, halusinasi, masalah jantung, sampai kematian.
Discover Wildlife dan Royal Horticultural Society mencatat sejumlah spesies paling berbahaya di dunia. Beberapa di antaranya justru tumbuh atau dibudidayakan secara luas di Indonesia.
Bintaro, Si Pohon Bunuh Diri dari Hutan Tropis
Buah bintaro (Cerbera odollam) mendapat julukan suicide tree karena bijinya mengandung cerberin. Senyawa itu mengganggu kerja jantung dan pada kasus berat memicu henti jantung.
Kew Science mencatat Cerbera odollam tumbuh alami di Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Discover Wildlife menempatkannya sebagai salah satu tanaman paling mematikan di dunia.
Saga Rambat dan Bunga Mentega, Cantik tapi Mematikan
Biji saga rambat (Rosary pea) berwarna merah dengan ujung hitam kerap dipakai sebagai ornamen. Di balik penampilannya, biji itu mengandung abrin, racun yang sangat kuat.
Jika biji rusak atau dikunyah dan racunnya masuk ke tubuh, keracunan dapat memicu mual, muntah, kejang, kerusakan organ, hingga kematian. Bunga mentega (Oleander) juga menyimpan bahaya serupa lewat kandungan cardiac glycosides yang mengganggu irama jantung bila tertelan.
Oleander bukan tanaman asli Indonesia, tetapi telah diperkenalkan dan tumbuh di beberapa wilayah. Kew Science mencatat keberadaannya antara lain di Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil.
Kecubung, Beracun tapi Dipakai untuk Pengobatan Tradisional
Kecubung (Datura metel) adalah semak dari keluarga terong-terongan dengan bunga terompet putih atau ungu serta buah bulat berduri. Tanaman ini banyak ditemukan di daerah tropis, termasuk Indonesia, dan sering dijadikan tanaman hias.
Dalam pengobatan tradisional, kecubung dipakai untuk memar, sakit gigi, demam, rematik, asam urat, dan asma. Namun senyawa beracunnya dapat memengaruhi sistem saraf dan memicu halusinasi, gangguan denyut jantung, kejang, hingga kondisi yang mengancam nyawa jika disalahgunakan.
Tembakau dan Jagung, Dua Komoditas Bernilai Ekonomi Tinggi
Tembakau (Nicotiana tabacum) mungkin yang paling dikenal dari daftar ini. Seluruh bagian tanaman mengandung alkaloid, terutama nikotin dan anabasine, dengan konsentrasi tertinggi pada daun.
Discover Wildlife mencatat tembakau bersifat racun bila dikonsumsi langsung. RHS menyoroti dampak yang jauh lebih besar dari produk tembakau, yang secara global menyebabkan jutaan kematian setiap tahun akibat konsumsi rokok dan paparan asapnya.
Nama jagung (Zea mays) dalam daftar ini mungkin terdengar mengejutkan. Jagung bukan tanaman beracun seperti kecubung atau oleander, tetapi RHS memasukkannya karena konsumsi jagung sebagai makanan utama jangka panjang tanpa pengolahan yang memungkinkan penyerapan vitamin B3 atau niasin dapat menyebabkan pellagra.
Risiko itu terutama muncul jika jagung mendominasi pola makan dan asupan niasin dari sumber lain sangat rendah. Konsumsi jagung dalam pola makan normal dan seimbang bukan berarti berbahaya.
Mikotoksin, Bahaya Tersembunyi pada Jagung Berjamur
Jagung yang disimpan dalam kondisi lembap dapat terkontaminasi jamur penghasil mikotoksin, seperti aflatoksin dan fumonisin. Toksin ini menjadi salah satu risiko paling serius karena tidak selalu terlihat dari penampilan jagung.
Jika jagung sudah berjamur, berubah warna, berbau aneh, atau membusuk, sebaiknya jangan dimakan. Proses memasak tidak selalu menghilangkan seluruh mikotoksin.
Jagung mentah bukan berarti beracun, tetapi lebih sulit dicerna dan berpotensi membawa kontaminasi mikroba jika tidak ditangani dengan baik. Jagung sendiri telah tersebar luas, termasuk di Jawa, Sumatra, Maluku, dan Kepulauan Sunda Kecil.
Nilai Ekonomi di Balik Sifat Beracun
Sifat beracun tidak lantas membuat tanaman-tanaman itu kehilangan nilai ekonomi. Beberapa di antaranya justru menjadi komoditas penting.
Tembakau adalah contoh paling jelas. Nicotiana tabacum merupakan spesies tembakau komersial utama yang telah lama dibudidayakan secara besar-besaran di Indonesia, dengan Jawa sebagai salah satu sentra produksi utama.
Kecubung juga masih dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional di berbagai daerah. Sementara jagung tetap menjadi salah satu tanaman pangan strategis nasional dengan luas panen yang besar setiap tahun.