BICARAKEUANGAN.COM — ARMA Fest 2026 digelar di Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, sebagai ruang pertemuan seniman senior dan generasi muda untuk merekonstruksi budaya Bali tanpa meninggalkan akar tradisinya. Salah satu agenda utamanya adalah lomba beleganjur ngarap se-Bali yang diikuti sembilan sekaa pemuda dari berbagai wilayah. Pameran karya seniman Keliki turut meramaikan rangkaian acara ini.
Yayasan ARMA (Agung Rai Museum of Art) kembali menggelar ARMA Fest di Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Festival ini menjadi jembatan antara tradisi lama dan ekspresi generasi baru.
Ketua Yayasan ARMA Anak Agung Yudi Sedana menyebut festival ini sebagai ruang rekonstruksi budaya Bali yang tetap menjaga akar tradisinya. Pelibatan generasi muda jadi kunci utama.
Beleganjur Ngarap Jadi Agenda Utama
Ketua Panitia ARMA Fest, I Made Sutama, mengatakan lomba beleganjur ngarap se-Bali diikuti sembilan sekaa atau kelompok pemuda dari sejumlah wilayah di Bali. Yang membedakan lomba ini dari kompetisi beleganjur lain adalah adanya prosesi ngarap.
"Yang membedakan lomba kita dengan lomba beleganjur yang sering diadakan di berbagai tempat adalah adanya prosesi ngarap itu sendiri," kata Sutama.
Pameran Seni Keliki dan Kolaborasi Lintas Generasi
Selain pertunjukan seni tradisi, ARMA Fest menghadirkan pameran seni yang menampilkan karya-karya seniman Keliki. Pameran dibuka pada 17 September dan berlangsung hingga 30 September.
Rangkaian kegiatan ini melibatkan sekitar 895 seniman dan peserta dari berbagai kegiatan, mulai dari beleganjur hingga workshop. Seniman dari Bali, luar Bali, hingga mancanegara turut ambil bagian.
ARMA Museum sebagai Ruang Budaya Harian
General Manager ARMA Museum and Resort, Made Suhartana, menegaskan ARMA Museum bukan sekadar destinasi budaya. Hampir setiap hari pihaknya menyediakan tempat dan kesempatan bagi pengunjung untuk mengikuti cultural activities.
"Keberadaan ARMA Museum sendiri adalah sebagai salah satu destinasi budaya. Itu yang kami kedepankan karena hampir setiap hari kami sediakan tempat dan kesempatan untuk pengunjung ke museum untuk melaksanakan cultural activities," ujarnya.
Menurut Suhartana, ARMA Fest memberi ruang bagi seluruh generasi untuk tampil dan belajar. Proses transfer pengetahuan dari seniman senior ke generasi berikutnya jadi bagian penting festival ini.
Mendorong Pariwisata Budaya yang Berkelanjutan
Suhartana berharap ARMA Fest mendorong pelaku pariwisata semakin mengedepankan konsep pariwisata budaya. Pengembangan perlu dilakukan berkelanjutan dengan meningkatkan nilai dan kualitas destinasi.
Sinergi antara pemerintah dan pihak swasta disebutnya sebagai faktor penting. ARMA sendiri telah berdiri 30 tahun berkat dukungan seniman, budayawan, dan masyarakat Bali.
"Kami tetap berusaha melestarikan, mengembangkan, dan tentunya membuka diri untuk seluruh lapisan masyarakat yang betul-betul tertarik terkait dengan seni dan budaya," kata Suhartana.
Tips Berkunjung ke ARMA Fest
ARMA Fest berlangsung di kawasan ARMA Museum and Resort, Ubud, Gianyar. Lokasi ini berjarak sekitar satu jam berkendara dari Denpasar atau Bandara I Gusti Ngurah Rai.
Untuk jadwal lengkap, harga tiket, dan jam operasional pameran, informasi terkini dapat dikonfirmasi langsung ke pihak ARMA Museum atau dinas pariwisata setempat. Beberapa agenda seperti pameran seni Keliki berlangsung pada periode tertentu, jadi pastikan cek tanggal sebelum berangkat.
Datang lebih awal jika ingin menyaksikan prosesi ngarap dalam lomba beleganjur. Bawa kamera untuk mengabadikan pertunjukan seni tradisi dan karya seniman Keliki.
ARMA Fest menawarkan pengalaman wisata budaya yang jarang ditemui di Bali selatan. Luangkan waktu setengah hari untuk menjelajah museum, menonton pertunjukan, dan berbincang dengan para seniman.