CEO Chamber of Mothers: Proposal Bayar Ibu Rumah Tangga Bukan Solusi

CEO Chamber of Mothers: Proposal Bayar Ibu Rumah Tangga Bukan Solusi

BICARAKEUANGAN.COM — Usulan federal untuk membayar orang tua yang tinggal di rumah menuai pro dan kontra di kalangan ibu Amerika. Erin Erenberg, CEO Chamber of Mothers, mengungkap alasan di balik penolakannya terhadap proposal tersebut dan apa yang sebenarnya dibutuhkan para ibu.

Proposal itu pertama kali dilaporkan The New York Times pada 5 September. Rencananya, dana yang ada dialihkan ke sejumlah keluarga menikah di mana salah satu orang tua tidak bekerja.

Apa Isi Proposal yang Dimaksud?

Program ini menggunakan dana yang sudah ada untuk menutup biaya pengasuhan anak bagi keluarga berpenghasilan di bawah 85 persen median pendapatan negara bagian. Syaratnya, kedua orang tua harus bekerja atau bersekolah.

Proposal baru tidak menambah dana sepeser pun. Dana yang ada justru dialihkan ke sebagian rumah tangga menikah dengan satu orang tua yang tidak bekerja.

Masalahnya, program subsidi itu sudah sangat kurang pendanaan dari Kongres. Saat ini hanya 1 dari 7 keluarga yang memenuhi syarat bisa mengaksesnya.

Dampak ke Keluarga Penerima Manfaat

Data The New York Times menunjukkan 80 persen dari 870.000 keluarga penerima subsidi saat ini adalah orang tua tunggal yang bekerja, sebagian besar ibu. Nilai bantuannya sekitar USD 9.000 per anak per tahun.

Erenberg menegaskan rencana ini memaksa orang tua yang bekerja dan yang tinggal di rumah berebut pot dana yang sama. Padahal yang dibutuhkan adalah memperbesar pot itu agar semua keluarga terlayani.

Ia juga menyoroti bahwa penerapan proposal ini di luar kewenangan pemerintah. Elliot Haspel, direktur di Chamber of Mothers, menjelaskan cabang eksekutif tidak bisa mengeluarkan aturan yang bertentangan dengan undang-undang yang disahkan Kongres.

Yang Sebenarnya Diinginkan Para Ibu

Survei non-pemerintah terbesar terhadap orang tua AS dengan anak di bawah enam tahun menemukan 72 persen orang tua hanya ingin lebih banyak waktu berkualitas dengan anak-anak mereka. Bagi separuh orang tua, uang menjadi penghalang utama.

Kondisi ekonomi tahun 2026 memperberat situasi. Sebanyak 60 persen orang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar, 37 persen orang tua tidak sanggup membiayai aktivitas yang ingin dilakukan bersama anak, dan 27 persen bekerja lebih banyak jam dari yang diinginkan.

Sebanyak 74 persen ibu Amerika bekerja untuk upah, banyak di antaranya karena tidak mampu memilih opsi lain. Karena itu, janji kosong tanpa penambahan investasi pemerintah yang signifikan terasa sangat menyakitkan.

Dukungan Publik untuk Pendanaan Lebih Besar

Di seluruh spektrum politik, lebih dari 80 persen pemilih mendukung investasi federal untuk cuti keluarga berbayar, pengasuhan anak yang terjangkau, dan kesehatan ibu. Angka ini menunjukkan mayoritas warga sepakat pada arah kebijakan yang sama.

Erenberg menekankan ketika para ibu yang menginginkan hal sama justru diadu satu sama lain, luka yang timbul lebih dalam daripada sekadar tidak mendapat dukungan. Ia menyebut ini juga mengalihkan perhatian dari tuntutan utama para ibu, yaitu pendanaan yang lebih besar.

Di berbagai negara bagian, anggota komunitas Chamber of Mothers telah meloloskan undang-undang tingkat lokal dan membantu ibu memahami hak-hak mereka di tempat kerja. Kolaborasi semacam ini memperkuat pemahaman akar persoalan yang dihadapi.

Erenberg mengajak para ibu bersatu menuntut investasi dalam pengasuhan anak yang fleksibel, andal, dan terjangkau tanpa memandang status pekerjaan. Termasuk investasi cuti berbayar untuk pemulihan pascapersalinan dan waktu bersama anak, serta kesehatan ibu yang lebih baik.

Menurutnya, Amerika Serikat punya sumber daya untuk membiayai dukungan nyata bagi setiap keluarga. Sebagian besar warga sepakat soal bentuk dukungan itu, dan langkah membangunnya sudah jelas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index