JAKARTA - Pergerakan harga minyak mentah global cenderung tertahan di tengah ketidakpastian pasar.
Pelaku pasar masih mencermati berbagai faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan energi.
Salah satu perhatian utama datang dari kondisi cuaca ekstrem di Amerika Serikat. Badai musim dingin yang melanda wilayah tersebut menimbulkan gangguan pada aktivitas industri energi, khususnya di kawasan pantai.
Situasi ini membuat harga minyak bergerak stabil dengan kecenderungan fluktuasi terbatas. Investor bersikap hati-hati sambil menunggu kejelasan dampak lanjutan terhadap produksi dan distribusi minyak mentah.
Dampak Badai Musim Dingin Terhadap Kilang AS
Harga minyak mentah atau crude oil stabil karena pasar masih mempertimbangkan dampak badai musim dingin yang melanda Amerika Serikat terhadap permintaan. Cuaca ekstrem tersebut memicu gangguan operasional di sejumlah fasilitas energi.
Badai musim dingin telah menyebabkan gangguan di kilang-kilang besar seperti Exxon Mobil Corp. yang berada di sepanjang pantai Texas, Amerika Serikat. Aktivitas pengolahan minyak di wilayah tersebut tidak berjalan optimal.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran pasar akan terganggunya pasokan dalam jangka pendek. Meski dampaknya bersifat sementara, gangguan kilang tetap menjadi faktor penahan pergerakan harga.
Pergerakan Harga WTI di Pasar Asia
West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret tercatat naik 0,3% menjadi US$60,81 per barel. Kenaikan tersebut terjadi pada Selasa, 27 Januari, pukul 8.25 pagi waktu Singapura.
WTI diperdagangkan mendekati level US$61 per barel setelah sebelumnya ditutup turun 0,7% pada perdagangan hari Senin. Pergerakan ini menunjukkan pasar masih mencari arah yang jelas.
Stabilnya harga WTI mencerminkan keseimbangan antara kekhawatiran gangguan pasokan dan ekspektasi permintaan. Pelaku pasar memilih menunggu perkembangan lanjutan dari kondisi cuaca dan kebijakan energi.
Tekanan pada Harga Minyak Brent
Sementara itu, harga minyak Brent untuk penyelesaian Maret ditutup turun 0,4% menjadi US$65,59 per barel. Penurunan ini tercatat pada perdagangan Senin, 26 Januari.
Kondisi beku yang melanda Amerika Serikat memengaruhi sejumlah kilang di kawasan Pantai Teluk. Dampak tersebut turut mengurangi produksi minyak dari wilayah strategis tersebut.
Meski badai besar telah berlalu, pasar masih mewaspadai potensi salju dan es tebal. Kekhawatiran ini dinilai dapat memperpanjang dampak terhadap aktivitas kilang dan distribusi energi.
Ekspektasi Pasokan dan Peran OPEC+
Harga minyak berjangka tercatat menguat di awal tahun meskipun terdapat ekspektasi kelebihan pasokan. OPEC+ bersama produsen lain diketahui memompa lebih banyak minyak ke pasar.
Delegasi OPEC+ dijadwalkan bertemu pada akhir pekan ini untuk meninjau kebijakan produksi bulan depan. Pertemuan tersebut diperkirakan akan mempertahankan rencana menjaga produksi minyak tetap stabil.
Sejauh ini, menurut salah satu delegasi, belum ada tanda-tanda perlunya respons khusus terhadap perkembangan di negara anggota seperti Venezuela dan Iran. Sikap ini turut menahan pergerakan harga.
Faktor Venezuela dan Intervensi AS
Intervensi Amerika Serikat di Venezuela berpotensi menambah pasokan minyak ke pasar global. Chevron Corp. disebut telah mengumpulkan armada kapal besar untuk mengirimkan minyak mentah Venezuela ke kilang-kilang di Amerika.
Masuknya tambahan barel minyak ini dinilai dapat memengaruhi keseimbangan pasokan. Pasar mencermati sejauh mana realisasi pengiriman tersebut berdampak pada harga.
Di tengah ekspektasi pasokan tambahan, investor tetap berhati-hati. Faktor geopolitik masih menjadi variabel penting dalam menentukan arah harga minyak dunia.
Ketegangan Iran dan Premi Risiko Minyak
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyoroti Iran dengan memperbarui ancaman terhadap kepemimpinan Teheran. Langkah ini menyusul penindakan terhadap pihak-pihak yang memprotes pemerintah Ayatollah Ali Khamenei.
Tindakan Amerika Serikat mengirimkan pasukan ke Timur Tengah turut memicu kekhawatiran pasar. Situasi tersebut menyuntikkan premi risiko ke dalam harga minyak global.
Kombinasi antara faktor cuaca ekstrem, kebijakan produksi, serta tensi geopolitik membuat harga minyak bergerak stabil. Pasar masih menanti kepastian arah di tengah dinamika global yang terus berkembang.