Berapa Modal Usaha Parfum? Rincian Lengkap dan Simulasi Biaya

Berapa Modal Usaha Parfum? Rincian Lengkap dan Simulasi Biaya
modal usaha parfum

Jakarta - Modal usaha parfum kini menjadi topik yang banyak dicari karena parfum sudah menjadi kebutuhan harian, khususnya bagi masyarakat perkotaan. 

Aktivitas padat, cuaca hangat, dan mobilitas tinggi membuat banyak orang mengandalkan parfum untuk menjaga kenyamanan dan rasa percaya diri. 

Kondisi ini mendorong permintaan parfum terus bertumbuh, sekaligus membuka peluang bisnis dengan beragam segmen harga yang bisa disesuaikan dengan target pasar.

Bagi kamu yang tertarik terjun ke bisnis parfum refill, tentu perlu memahami gambaran awal mengenai dana yang harus dipersiapkan. 

Mulai dari bahan baku, botol, hingga perlengkapan pendukung lainnya, semuanya bisa disesuaikan dengan skala usaha yang diinginkan. 

Pada pembahasan berikut, akan diulas gambaran kebutuhan awal agar kamu bisa merencanakan modal usaha parfum dengan lebih matang.

Pilihan Model Bisnis Parfum untuk Calon Pengusaha

Setiap orang yang ingin memulai usaha parfum bisa memilih model bisnis yang berbeda, tergantung pada ketersediaan modal, tujuan, dan strategi pemasaran. Berikut tiga model bisnis yang umum dipilih dan bisa menjadi pertimbangan:

1. Parfum isi ulang & penjualan ritel
Model ini cocok untuk pemula karena membutuhkan modal awal relatif kecil. Parfum bisa dijual di kios, toko kecil, atau secara daring. 

Kelebihan model ini adalah perputaran stok cepat dan pasar yang luas. Namun, keuntungan per botol cenderung kecil sehingga membutuhkan volume penjualan tinggi agar bisnis tetap menguntungkan.

2. Parfum label pribadi (maklon)
Jika ingin memiliki merek parfum sendiri tanpa harus memproduksi secara mandiri, layanan maklon parfum bisa menjadi solusi. 

Dengan maklon, Anda bisa memiliki aroma eksklusif, kemasan elegan, serta legalitas izin edar yang jelas. 

Layanan ini juga menjamin kualitas dan menyediakan fleksibilitas dalam jumlah pemesanan minimum, cocok bagi pemula yang ingin mencoba pasar.

3. Parfum buatan tangan atau merek khusus (niche brand)
Bagi pengusaha yang ingin menekankan kreativitas dan personalisasi, parfum buatan tangan memberi keleluasaan untuk menciptakan aroma unik. 

Parfum jenis niche biasanya memiliki karakter khas dan cerita di balik produknya, memberikan nilai emosional bagi konsumen. 

Model ini ideal untuk membangun merek eksklusif dengan potensi harga jual lebih tinggi.

Modal Usaha Parfum Refill

Perhitungan kebutuhan dana awal dalam pembahasan ini merujuk pada informasi yang disajikan melalui kanal YouTube Dhifanada. 

Jika kamu ingin memahami lebih dalam berbagai hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memulai bisnis ini, termasuk perencanaan modal usaha parfum, silakan simak ulasan lanjutan pada artikel berikut.

1. Inventaris Peralatan Usaha
Inventaris peralatan mencakup berbagai perlengkapan yang tidak cepat habis dan dapat digunakan dalam jangka panjang. 

Dalam usaha parfum isi ulang, penjualan umumnya dilakukan secara langsung kepada konsumen, sehingga perlengkapan penunjang perlu dipersiapkan sejak awal. Beberapa peralatan yang biasanya dibutuhkan antara lain:

  1. Suntikan parfum sekali pakai (10 buah) = Rp25.000
  2. Suntikan parfum tipe permanen (2 buah) = Rp20.000
  3. Gelas ukur berbagai ukuran (10, 25, 50, 100 ml) = Rp75.000
  4. Alat mixer untuk mengaduk cairan = Rp–
  5. Etalase toko (3 unit untuk ruko ukuran 3×4 m) = Rp4.500.000
  6. Meja kasir = Rp500.000
  7. Rak pajangan dinding ukuran 1×2 m (4 unit) = Rp6.000.000
  8. Banner, spanduk, lampu, dan kebutuhan fit out = Rp1.000.000

Total biaya inventaris peralatan: Rp12.120.000

2. Biaya Awal Bahan Produksi
Besarnya biaya bahan awal sangat bergantung pada jumlah produk yang ingin dipasarkan. Umumnya, pelaku usaha disarankan menyiapkan sekitar 150 bibit aroma dengan volume kurang lebih 100 ml per botol. 

Perlu dipahami bahwa jumlah tersebut tidak berarti hanya menghasilkan 150 botol parfum, karena dalam proses peracikan akan digunakan bahan pendukung lain untuk menghasilkan aroma yang optimal dan siap jual.

Rincian kebutuhan bahan antara lain:

  1. Bibit aroma (150 botol @ ±100 ml) = ± Rp13.000.000
  2. Botol aluminium (150 buah) = Rp1.500.000
  3. Etanol atau pelarut absolut prima (2 liter) = Rp110.000
  4. Cairan pembersih absolut (1 liter) = Rp20.000
  5. DPG atau solviol (1 liter) = Rp57.000
  6. Air suling (5 liter) = Rp32.500
  7. Botol semprot plastik ukuran 20 & 40 ml (4 lusin) = Rp120.000
  8. Botol roll-on ukuran 6 & 10 ml (10 lusin) = Rp150.000
  9. Botol semprot kaca 15 ml (2 lusin) = Rp110.000
  10. Botol semprot kaca 20 ml (2 lusin) = Rp120.000
  11. Botol semprot kaca 30 ml (2 lusin) = Rp120.000
  12. Botol semprot kaca 35 ml (2 lusin) = Rp120.000
  13. Botol semprot kaca 50 ml (2 lusin) = Rp144.000
  14. Botol semprot kaca 60 ml (2 lusin) = Rp144.000
  15. Botol semprot kaca 100 ml (1 lusin) = Rp96.000
  16. Stiker kaleng anti luntur (150 lembar) = Rp600.000

Total biaya bahan produksi awal: Rp12.120.000

3. Biaya Operasional Awal Usaha
Selain peralatan dan bahan, ada pengeluaran rutin yang perlu disiapkan sejak awal menjalankan bisnis parfum isi ulang. Biaya operasional ini berkaitan langsung dengan aktivitas harian usaha agar tetap berjalan lancar. Adapun komponen biaya yang umumnya muncul di tahap awal meliputi:

  1. Upah karyawan (per orang) = Rp1.500.000
  2. Biaya listrik dan air = Rp500.000
  3. Sewa lokasi usaha (per bulan) = Rp1.500.000
  4. Kebersihan lingkungan dan retribusi = Rp100.000

Total biaya operasional awal: Rp3.600.000

4. Perhitungan Perkiraan Keuntungan
Selanjutnya, untuk mengetahui potensi laba dari bisnis parfum refill, ada dua hal utama yang harus dipahami terlebih dahulu, yaitu biaya produksi per botol dan harga jual produk. 

Dengan mengetahui kedua komponen tersebut, barulah estimasi keuntungan kotor dapat dihitung secara lebih akurat.

Rincian Biaya Produksi per Botol
Langkah awal adalah memahami komposisi bahan yang digunakan untuk meracik satu botol parfum. Sebagai contoh, untuk menghasilkan satu botol parfum ukuran 50 ml, diperlukan beberapa komponen berikut:

  1. Botol semprot kaca ukuran 50 ml = Rp1.000
  2. Bibit aroma sebanyak 25 ml = Rp8.700
  3. Pelarut absolut prima sebanyak 20 ml = Rp1.100
  4. Emulsifier atau pelarut DPG sebanyak 0,5 ml = Rp28,5
  5. Air suling (aquadest) sebanyak 5 ml = Rp32,5

Jika seluruh biaya tersebut dijumlahkan, maka total biaya produksi per botol berada di angka Rp10.861.

Estimasi Harga Jual dan Keuntungan
Untuk parfum ukuran 50 ml, harga jual di pasaran umumnya berada di kisaran Rp35.000 per botol

Dengan perbandingan antara harga jual dan biaya produksi tersebut, maka potensi keuntungan kotor per botol mencapai sekitar Rp24.139, atau setara dengan margin keuntungan kurang lebih 223% sebelum dikurangi biaya operasional lainnya.

Perhitungan ini menunjukkan bahwa usaha parfum isi ulang memiliki peluang margin yang cukup besar apabila dikelola dengan perhitungan biaya yang matang dan strategi penjualan yang tepat.

Sebagai penutup, memahami kebutuhan, target pasar, dan model bisnis yang tepat adalah kunci sukses memulai dan mengelola modal usaha parfum dengan efektif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index