10 Penyakit Susah Tidur Selain Insomnia, Apa Saja? Mari Simak!

Senin, 05 Januari 2026 | 12:57:35 WIB
penyakit susah tidur selain insomnia

Jakarta - Penyakit susah tidur selain insomnia bisa memengaruhi kualitas tidur tanpa banyak disadari. 

Kondisi ini terjadi ketika seseorang sulit memulai tidur, sering terbangun di malam hari, atau kesulitan kembali tidur setelah terjaga. 

Selain insomnia yang sudah umum diketahui, ada beberapa gangguan lain yang juga berperan membuat seseorang mengalami kesulitan tidur.

Memahami berbagai penyakit yang dapat mengganggu tidur ini penting agar gejalanya bisa dikenali lebih awal dan langkah pencegahan atau penanganan dapat dilakukan. 

Dengan begitu, kualitas tidur dapat meningkat dan kesehatan secara keseluruhan pun lebih terjaga. 

Berikut beberapa contoh penyakit susah tidur selain insomnia yang perlu diketahui.

Penyakit Susah Tidur Selain Insomnia

Penyakit susah tidur selain insomnia sering kali jarang disadari, padahal kondisi ini bisa mengganggu kualitas tidur dan kesehatan secara keseluruhan. 

Berikut ini adalah ragam penyakit susah tidur lainnya yang patut Anda perhatikan:

1. Gagal jantung
Gagal jantung terjadi ketika jantung tidak mampu memompa darah dengan efektif ke seluruh tubuh, sehingga organ dan jaringan kekurangan oksigen dan nutrisi. 

Kondisi ini sering menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru dan jaringan tubuh lainnya. Akibatnya, penderita bisa terbangun di malam hari karena sesak napas. 

Agar lebih nyaman saat tidur, posisi tubuh bagian atas sebaiknya ditinggikan sehingga paru-paru lebih berkembang dan gejala sesak berkurang.

2. Heartburn
Heartburn muncul sebagai rasa panas di bagian ulu hati, sering disertai nyeri pada dada dan perut akibat naiknya asam lambung ke kerongkongan. 

Gejala ini biasanya memburuk di malam hari, sehingga tidur menjadi terganggu. Tidur dengan posisi miring ke kiri dianggap paling efektif untuk mengurangi refluks dan menurunkan paparan asam lambung ke kerongkongan. 

Selain itu, menjaga pola makan, menghindari pemicu heartburn, dan menjalani gaya hidup sehat dapat membantu mencegah kambuhnya gejala.

3. Masalah pernapasan
Gangguan pada sistem pernapasan bisa membuat seseorang kesulitan tertidur atau terbangun saat tidur. 

Saluran napas yang menyempit akibat perubahan otot selama siklus tidur meningkatkan risiko serangan asma di malam hari. 

Kondisi lain seperti emfisema atau bronkitis juga dapat menimbulkan kesulitan tidur karena produksi dahak berlebih, batuk, dan sesak napas yang mengganggu kenyamanan tidur.

4. Hipertiroid
Salah satu kondisi yang bisa membuat seseorang sulit tidur adalah hipertiroid. 

Kelenjar tiroid yang terlalu aktif memproduksi hormon secara berlebihan, yang kemudian merangsang sistem saraf, mempercepat detak jantung, dan menyebabkan keringat berlebih di malam hari, sehingga tidur terganggu.

5. Diabetes
Penderita diabetes sering mengalami gangguan tidur karena kombinasi kecemasan dan sleep apnea. 

Gejalanya bisa berupa keringat malam, sering buang air kecil, atau nyeri di area tubuh tertentu. 

Diabetes terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi insulin secara efektif, sehingga kadar gula darah meningkat dan memengaruhi kualitas tidur.

6. Gangguan muskuloskeletal
Masalah pada sistem muskuloskeletal, termasuk ligamen, otot, saraf, sendi, tendon, dan tulang belakang, juga dapat mengganggu tidur. 

Gejala umum meliputi nyeri, peradangan, pembengkakan, mati rasa, penurunan fungsi otot, serta ketidaknyamanan yang membuat tidur menjadi sulit.

7. Kondisi psikologis
Kesehatan mental yang terganggu bisa menjadi faktor utama kesulitan tidur. Kecemasan, kegelisahan berlebihan, depresi, serangan panik, atau gangguan bipolar dapat membuat tubuh sulit untuk rileks dan beristirahat, meskipun secara fisik lelah. 

Kondisi ini seringkali membuat tidur tidak nyenyak atau mudah terbangun di malam hari.

8. Demensia
Salah satu faktor yang membuat seseorang sulit tidur adalah demensia, kondisi yang mengganggu kemampuan berpikir, berinteraksi, dan mengingat. 

Penderita juga mengalami penurunan keterampilan motorik, sehingga fungsi otak terganggu dan insomnia bisa muncul. 

Gejala khas demensia termasuk sindrom sundowning, di mana penderitanya menjadi gelisah dan cenderung aktif atau ingin bergerak di sore hingga malam hari.

9. Sleep Apnea
Gangguan pernapasan saat tidur juga dapat memicu kesulitan tidur. Penderita mengalami henti napas sementara yang membuat tidur terputus-putus, sering terbangun untuk buang air kecil akibat gangguan hormon ADH, sehingga kualitas tidur secara keseluruhan menurun.

10. Fibromyalgia
Fibromyalgia adalah kondisi yang membuat penderitanya merasakan nyeri di berbagai bagian tubuh. 

Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, termasuk anak-anak, meskipun paling sering terjadi pada usia 30–50 tahun. 

Dari segi jenis kelamin, wanita memiliki risiko lebih tinggi terkena kondisi ini.

Orang dengan fibromyalgia sering merasakan sensasi terbakar atau seperti ditusuk-tusuk di seluruh tubuh, yang bisa muncul terus-menerus atau datang dan pergi. 

Selain itu, nyeri pada ligamen dan tendon juga kerap dialami. Kombinasi rasa nyeri ini dapat mengganggu tidur, membuat malam terasa tidak nyaman, dan menurunkan kualitas istirahat.

Dampak Kurang Tidur dalam Jangka Panjang

Kurang tidur yang berlangsung terus-menerus bisa menimbulkan efek serius bagi kesehatan fisik, mental, dan kualitas hidup seseorang. Berikut penjelasan rinci mengenai konsekuensinya:

Dampak pada Kesehatan Fisik:

  • Risiko penyakit jantung dan hipertensi meningkat.
  • Sistem kekebalan tubuh melemah, membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi.
  • Peningkatan kemungkinan diabetes tipe 2.
  • Gangguan hormon yang memicu kenaikan berat badan.
  • Fungsi seksual dan libido menurun.
  • Proses penuaan kulit lebih cepat.
  • Risiko beberapa jenis kanker meningkat.

Dampak pada Kesehatan Mental:

  • Risiko depresi dan gangguan kecemasan bertambah.
  • Suasana hati bisa berubah drastis.
  • Kemampuan kognitif, termasuk fokus dan memori, menurun.
  • Risiko gangguan mental seperti bipolar dan skizofrenia meningkat.
  • Kesulitan dalam mengambil keputusan dan memecahkan masalah.

Dampak pada Kualitas Hidup:

  • Produktivitas di sekolah atau tempat kerja menurun.
  • Risiko kecelakaan meningkat, khususnya saat mengemudi.
  • Hubungan sosial dan interpersonal terganggu.
  • Kualitas hidup secara keseluruhan menurun.

Mengingat efek kurang tidur yang begitu luas, penting untuk segera menangani masalah tidur. Jika gejala berlanjut, konsultasi dengan tenaga profesional sangat disarankan. 

Dengan perubahan gaya hidup, terapi perilaku, dan jika perlu intervensi medis, pola tidur yang sehat bisa kembali dan komplikasi jangka panjang dapat dicegah.

Sebagai penutup, itulah beberapa contoh penyakit susah tidur selain insomnia. 

Jika gangguan tidur Anda disebabkan oleh kondisi medis tertentu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter agar dapat menemukan penanganan yang tepat, mencegah kambuhnya masalah, dan meningkatkan kualitas tidur secara optimal.

Terkini

8 Cara Download Video YouTube dengan Mudah!

Rabu, 07 Januari 2026 | 10:21:26 WIB

Cara Dapat Uang dari Facebook Pro 2026: Panduan Lengkap!

Rabu, 07 Januari 2026 | 10:21:26 WIB

15 Makanan Khas Bangka Belitung yang Populer

Rabu, 07 Januari 2026 | 10:21:26 WIB