Obat

Sering Diabaikan, ini 7 Obat yang Tidak Aman Dikombinasikan dengan Teh Herbal

Sering Diabaikan, ini 7 Obat yang Tidak Aman Dikombinasikan dengan Teh Herbal
Sering Diabaikan, ini 7 Obat yang Tidak Aman Dikombinasikan dengan Teh Herbal

JAKARTA - Teh herbal kerap menjadi pilihan minuman sehari-hari karena dianggap alami dan menenangkan. 

Banyak orang meminumnya untuk membantu relaksasi, melancarkan pencernaan, hingga mendukung daya tahan tubuh. Berbagai jenis teh herbal, seperti chamomile, jahe, peppermint, ginseng, dan echinacea, mudah ditemukan dan sering dikonsumsi tanpa rasa khawatir.

Namun, anggapan bahwa semua produk herbal selalu aman tidak sepenuhnya benar. Teh herbal tetap mengandung senyawa aktif yang dapat memengaruhi kerja obat tertentu di dalam tubuh. Jika dikonsumsi bersamaan tanpa pertimbangan yang tepat, interaksi ini bisa membuat efek obat melemah, justru menjadi terlalu kuat, atau memicu efek samping yang tidak diinginkan.

Interaksi antara obat dan teh herbal sering kali tidak disadari karena teh herbal dianggap sebagai minuman biasa, bukan bagian dari terapi. Padahal, memahami kombinasi yang perlu dihindari sangat penting agar pengobatan berjalan efektif dan aman. Berikut ini beberapa jenis obat yang sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan dengan teh herbal.

Obat yang Tidak Boleh Dikonsumsi dengan Teh Herbal

Melansir dari laman Verywell Health, berikut ini sejumlah obat yang berpotensi berinteraksi dengan teh herbal.

1. Siklosporin

Siklosporin merupakan obat penekan sistem imun yang umumnya digunakan setelah transplantasi organ untuk mencegah penolakan. Selain itu, obat ini juga diresepkan pada kondisi tertentu seperti psoriasis berat dan rheumatoid arthritis. Karena memiliki batas keamanan yang sempit, penggunaan siklosporin memerlukan pemantauan kadar obat dalam darah secara rutin.

Jika kadar siklosporin terlalu rendah, risiko penolakan organ dapat meningkat. Sebaliknya, kadar yang terlalu tinggi dapat menyebabkan efek toksik. Beberapa herbal, seperti St John’s wort dan jahe, diketahui dapat menurunkan efektivitas siklosporin sehingga obat tidak bekerja optimal. Bahkan, terdapat laporan yang mengaitkan penggunaan St John’s wort dengan kasus penolakan organ transplantasi.

Sementara itu, herbal lain seperti chamomile dan echinacea justru dapat meningkatkan efek siklosporin dan memicu risiko efek samping serius.

2. Pengencer Darah dan Obat Antiplatelet

Warfarin adalah obat pengencer darah yang memerlukan pemantauan rutin untuk memastikan darah tidak terlalu mudah atau terlalu sulit membeku. Selain warfarin, terdapat pengencer darah generasi baru seperti apixaban, dabigatran, rivaroxaban, dan edoxaban yang umumnya tidak memerlukan pemeriksaan rutin.

Obat antiplatelet seperti aspirin dan clopidogrel bekerja dengan mencegah trombosit saling menempel dan membentuk gumpalan. Herbal yang memengaruhi pembekuan darah sebaiknya dihindari saat mengonsumsi obat-obatan ini. Beberapa herbal, seperti cranberry, kayu manis, jahe, ginkgo, ginseng, kunyit, dan St John’s wort, dapat meningkatkan risiko perdarahan atau justru menurunkan efektivitas obat sehingga risiko penggumpalan darah meningkat.

3. Digoxin

Digoxin digunakan untuk mengatasi gagal jantung dan gangguan irama jantung tertentu. Obat ini memiliki rentang dosis yang sangat sempit, sehingga kadar dalam darah harus dipantau secara berkala. Kadar digoxin yang terlalu tinggi dapat menyebabkan efek samping serius.

St John’s wort diketahui dapat mengurangi efektivitas digoxin. Selain itu, beberapa herbal lain seperti hawthorn, ginseng, dan jahe juga diduga dapat memengaruhi cara kerja digoxin, meskipun bukti ilmiah yang mendukung masih terbatas.

4. Antidepresan

Antidepresan, termasuk golongan SSRI dan SNRI, bekerja dengan meningkatkan kadar serotonin di otak untuk membantu memperbaiki suasana hati. Beberapa herbal, terutama ginseng dan St John’s wort, juga memiliki efek meningkatkan serotonin.

Jika dikonsumsi bersamaan, kombinasi ini dapat meningkatkan risiko sindrom serotonin, yaitu kondisi akibat kadar serotonin yang terlalu tinggi. Gejalanya dapat berupa kebingungan, jantung berdebar, demam, hingga kejang. Kondisi ini termasuk serius dan memerlukan penanganan medis segera.

5. Benzodiazepin

Benzodiazepin seperti alprazolam, diazepam, dan clonazepam sering diresepkan untuk mengatasi kecemasan. Efek samping umum dari obat ini adalah rasa kantuk dan sedasi. Akar valerian, yang kerap digunakan dalam teh herbal untuk membantu tidur, juga memiliki efek menenangkan.

Jika dikonsumsi bersamaan, efek sedasi dapat menjadi berlebihan dan berbahaya karena menekan sistem saraf pusat. Selain itu, St John’s wort dapat mengurangi efektivitas benzodiazepin, sehingga kombinasi ini sebaiknya dihindari.

6. Metformin

Metformin merupakan obat yang umum digunakan untuk mengontrol kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2. Herbal goldenseal, yang sering digunakan untuk mendukung pencernaan dan sistem imun, diketahui dapat mengurangi efektivitas metformin.

Akibatnya, kadar gula darah dapat menjadi sulit dikendalikan. Interaksi ini berpotensi mengganggu pengelolaan diabetes jika tidak disadari.

7. Obat Tekanan Darah

Berberine, senyawa yang terdapat dalam beberapa herbal seperti barberry, goldenseal, dan kunyit, diketahui dapat menurunkan tekanan darah. Jika dikonsumsi bersamaan dengan obat antihipertensi seperti losartan, efek penurunan tekanan darah bisa menjadi terlalu kuat dan meningkatkan risiko efek samping.

Ginseng juga memiliki efek yang tidak konsisten terhadap tekanan darah. Pada sebagian orang, ginseng dapat menurunkan tekanan darah, sementara pada kasus lain justru membantu menaikkan tekanan darah yang rendah. Karena efeknya sulit diprediksi, konsumsi ginseng bersama obat tekanan darah sebaiknya dihindari.

Itulah beberapa obat yang tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan teh herbal. Memahami potensi interaksi ini penting agar terapi yang dijalani tetap aman dan efektif. Jika ragu, konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengombinasikan obat dan teh herbal merupakan langkah yang bijak. Semoga bermanfaat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index