JAKARTA - Menjelang perayaan Lebaran 2026, pemerintah menaruh perhatian besar pada penguatan konsumsi rumah tangga sebagai penggerak utama perekonomian nasional.
Sejumlah langkah stimulus pun disiapkan guna menjaga aktivitas belanja masyarakat tetap kuat selama periode tersebut. Kebijakan ini diharapkan mampu mendorong roda ekonomi bergerak lebih cepat, terutama pada kuartal pertama tahun 2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa berbagai program yang digulirkan memiliki peran penting dalam mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah menilai periode menjelang Hari Raya Idulfitri selalu menjadi salah satu momen strategis untuk meningkatkan aktivitas konsumsi masyarakat di berbagai sektor.
Dengan mengombinasikan program diskon belanja, bantuan sosial, hingga insentif transportasi mudik, pemerintah berharap daya beli masyarakat dapat terdongkrak secara signifikan. Langkah ini sekaligus diarahkan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Program BINA Lebaran Dorong Aktivitas Belanja
Salah satu kebijakan utama yang disiapkan pemerintah adalah penyelenggaraan Program Belanja di Indonesia Aja (BINA) Lebaran 2026. Program ini dirancang untuk memacu transaksi ritel melalui berbagai promo dan diskon yang melibatkan pelaku usaha dalam skala besar.
Airlangga mengungkapkan bahwa program tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan nilai transaksi yang cukup besar selama masa pelaksanaannya.
"Saya monitor BINA targetnya sekarang Rp53 triliun, dan ini naik 20% dibandingkan tahun yang lalu. Kami berharap ini akan terus meningkatkan konsumsi dalam negeri," ujar Airlangga.
Program BINA dijadwalkan berlangsung selama 25 hari, mulai 6 Maret hingga 30 Maret 2026. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini melibatkan sekitar 380 perusahaan dan 800 jenama atau brand. Selain itu, lebih dari 80.000 gerai ritel dan sekitar 400 pusat perbelanjaan turut berpartisipasi dalam menawarkan potongan harga yang cukup besar.
Masyarakat dapat menikmati berbagai diskon belanja yang berkisar antara 70% hingga 80%. Dengan skema promosi tersebut, pemerintah berharap masyarakat terdorong untuk meningkatkan pengeluaran konsumsi, sekaligus membantu sektor ritel mempertahankan kinerja penjualan.
Bantuan Pangan untuk Jaga Konsumsi Rumah Tangga
Selain mendorong aktivitas belanja ritel, pemerintah juga menyiapkan stimulus yang menyasar kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Langkah ini dilakukan melalui penyaluran bantuan pangan yang bertujuan menjaga daya beli rumah tangga, khususnya menjelang perayaan Lebaran.
Program bantuan tersebut direncanakan menjangkau sekitar 35 juta keluarga penerima manfaat di seluruh Indonesia. Nilai total anggaran yang dialokasikan untuk program ini mencapai Rp11,92 triliun.
Penyaluran bantuan pangan dipandang penting karena kelompok masyarakat bawah memiliki peran besar dalam menjaga stabilitas konsumsi domestik. Dengan adanya bantuan tersebut, pemerintah berharap kebutuhan pokok masyarakat dapat terpenuhi sekaligus meringankan beban pengeluaran mereka.
Stimulus ini juga diharapkan mampu menjaga perputaran ekonomi di sektor pangan dan distribusi barang kebutuhan pokok. Dengan demikian, dampak kebijakan tidak hanya dirasakan oleh penerima bantuan, tetapi juga oleh pelaku usaha di rantai pasok pangan.
Diskon Transportasi dan Skema WFA saat Mudik
Upaya mendorong aktivitas ekonomi juga dilakukan melalui sektor transportasi, terutama selama periode mudik Lebaran. Pemerintah menyiapkan kebijakan diskon tarif transportasi bagi masyarakat yang melakukan perjalanan pulang kampung.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan mobilitas masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi di berbagai daerah tujuan mudik. Ketika masyarakat melakukan perjalanan ke kampung halaman, pergerakan ekonomi biasanya ikut meningkat karena adanya aktivitas konsumsi di wilayah tersebut.
Untuk memperkuat dampak kebijakan ini, pemerintah juga mendorong penerapan skema bekerja dari mana saja atau work from anywhere (WFA). Dengan kebijakan ini, pekerja memiliki fleksibilitas untuk tetap menjalankan aktivitas pekerjaan tanpa harus berada di kantor.
Penerapan WFA diharapkan dapat memperpanjang durasi masyarakat berada di daerah tujuan mudik. Hal tersebut pada akhirnya berpotensi mendistribusikan aktivitas ekonomi secara lebih merata ke berbagai wilayah di Indonesia.
THR dan Bonus bagi Pengemudi Transportasi Online
Selain stimulus di sektor konsumsi dan mobilitas, pemerintah juga memastikan bahwa hak-hak pekerja menjelang Lebaran dapat terpenuhi dengan baik. Salah satunya melalui penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) yang harus diberikan tepat waktu kepada para pekerja.
Airlangga menyatakan bahwa pemerintah akan memastikan proses penyaluran THR berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. Langkah ini dinilai penting karena pembayaran THR biasanya berkontribusi langsung terhadap peningkatan konsumsi masyarakat menjelang hari raya.
Tidak hanya pekerja formal, pengemudi transportasi online juga akan menerima Bonus Hari Raya (BHR). Perusahaan disebut telah menyiapkan dana sekitar Rp220 miliar untuk program tersebut.
Pemberian bonus tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para pengemudi sekaligus mendorong aktivitas konsumsi di kalangan pekerja sektor informal. Dengan begitu, dampak ekonomi dari kebijakan ini dapat menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas.
Target Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026
Berbagai stimulus yang disiapkan pemerintah tersebut diharapkan mampu memberikan dorongan signifikan terhadap kinerja perekonomian nasional pada awal tahun 2026. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun tersebut dapat mencapai sekitar 5,5%.
Target ini lebih tinggi dibandingkan capaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2025 yang tercatat sebesar 5,39%. Pemerintah optimistis bahwa momentum Lebaran dapat dimanfaatkan untuk memperkuat aktivitas konsumsi domestik.
"Tentu kami berharap bahwa momentum ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama. Kuartal pertama ini kami harus dongkrak dan harapannya lebih tinggi dari tahun lalu," kata Airlangga.
Dengan kombinasi berbagai stimulus yang mencakup sektor ritel, bantuan sosial, mobilitas, hingga dukungan bagi pekerja, pemerintah berharap konsumsi masyarakat tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional pada awal 2026.