JAKARTA - Menjelang periode mudik Lebaran, lintasan Ketapang–Gilimanuk bersiap menghadapi peningkatan mobilitas yang jauh lebih padat dari hari biasa.
Arus penyeberangan diperkirakan menguat seiring tingginya pergerakan masyarakat antarwilayah. Kesiapan layanan menjadi kunci agar perjalanan tetap tertib, aman, dan lancar.
Proyeksi Lonjakan Penumpang dan Kendaraan
Arus penyeberangan Ketapang–Gilimanuk diprediksi mengalami lonjakan signifikan pada Angkutan Lebaran 2026. PT ASDP Indonesia Ferry memperkirakan kenaikan penumpang mencapai 3 persen dan kendaraan sebesar 5 persen. Proyeksi ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas lintas pulau pada momen libur panjang.
Total penumpang yang akan menggunakan jasa penyeberangan ini diperkirakan mencapai 1,67 juta orang. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 1,62 juta penumpang. Kenaikan tersebut mencerminkan tren mobilitas yang terus tumbuh setiap musim Lebaran.
Sementara itu, jumlah kendaraan diproyeksikan mencapai 453.964 unit. Angka tersebut naik dari 427.033 unit pada tahun sebelumnya. Lonjakan kendaraan menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan antrean dan kapasitas kapal.
Perbandingan dengan Kondisi Hari Normal
Senior General Manager Regional III ASDP, Lutfi Pratama Adi Subarkah, mengungkapkan proyeksi lonjakan ini dalam jumpa pers di Kantor ASDP Ketapang, Banyuwangi. Ia menegaskan bahwa peningkatan akan sangat terasa bila dibandingkan dengan hari normal. Gambaran ini menjadi dasar perencanaan penguatan operasional.
“Ada kenaikan tiga kali lipat dibandingkan rata-rata jumlah penumpang harian saat normal yang sekitar 10–11 ribu orang,” jelasnya. Pernyataan tersebut menunjukkan skala lonjakan yang perlu diantisipasi sejak dini. Peningkatan drastis ini berpotensi memicu kepadatan bila tidak dikelola dengan baik.
Perbandingan dengan kondisi normal membantu memetakan kebutuhan layanan tambahan. Penyesuaian jadwal dan armada menjadi krusial untuk menjaga kelancaran. Kesiapan petugas lapangan juga menjadi bagian penting dari penguatan layanan.
Proyeksi Perjalanan Kapal dan Arus Penyeberangan
ASDP memprediksi jumlah perjalanan kapal di lintasan Ketapang–Gilimanuk mencapai 10.080 trip. Angka ini naik 4 persen dibandingkan 9.658 trip pada tahun sebelumnya. Kenaikan perjalanan kapal diharapkan mampu mengurai kepadatan penumpang dan kendaraan.
Untuk arus mudik dari Pelabuhan Gilimanuk, diperkirakan mencapai 4.928 perjalanan. Arus ini akan mengangkut 876.439 penumpang dan 239.519 kendaraan. Data tersebut menggambarkan besarnya beban layanan pada fase awal mudik.
Sedangkan arus balik dari Pelabuhan Ketapang diproyeksikan meningkat menjadi 5.152 perjalanan. Jumlah ini akan membawa 799.485 penumpang dan 214.445 kendaraan. Perbedaan volume arus mudik dan balik perlu diantisipasi dengan pengaturan pola operasi yang adaptif.
Pola Operasi Khusus Antisipasi Kepadatan
Guna mengantisipasi kepadatan, ASDP menyiapkan pola operasi khusus. Dalam kondisi normal, 28 kapal akan beroperasi di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Skema ini menjadi basis operasional harian sebelum terjadi lonjakan.
Jumlah armada akan ditambah menjadi 30 unit jika terjadi kepadatan. Penambahan dapat ditingkatkan hingga 32 kapal apabila kondisi sangat padat. Fleksibilitas jumlah armada ini dirancang untuk merespons situasi lapangan secara cepat.
Indikator kepadatan ditentukan dari panjang antrean kendaraan. Pengukuran dilakukan mulai dari 190 meter hingga 1,3 kilometer dari area pelabuhan. Parameter ini menjadi acuan keputusan penambahan kapal agar arus tetap terkendali.
Puncak Arus dan Faktor Pemicu Kepadatan
Puncak arus mudik Lebaran diperkirakan terjadi pada 17 Maret 2026. Pada hari tersebut, jumlah penumpang diproyeksikan mencapai 32.150 orang. Lonjakan ini memerlukan kesiapan ekstra dari sisi operasional dan pengaturan lalu lintas pelabuhan.
Sementara puncak arus balik diprediksi berlangsung pada 26 Maret 2026. Jumlah penumpang pada fase ini diperkirakan mencapai 27.038 orang. Pola pergerakan balik yang tinggi perlu diimbangi dengan distribusi jadwal kapal yang merata.
Lutfi menambahkan bahwa momentum Lebaran bertepatan dengan libur sekolah, cuti bersama, dan Hari Raya Nyepi pada 19 Maret. Kondisi ini diperkirakan semakin meningkatkan intensitas pergerakan penumpang dan kendaraan di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Kombinasi faktor tersebut menjadi alasan penguatan layanan dilakukan secara menyeluruh.