JAKARTA - Memasuki awal 2026, masyarakat mendapat kabar positif dari sektor energi melalui penyesuaian harga BBM.
Sejumlah produk bahan bakar mengalami penurunan harga di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini memberi ruang bagi konsumen untuk mengatur pengeluaran bahan bakar secara lebih efisien.
Penurunan harga terjadi pada beberapa jenis bensin dan diesel non-subsidi. Langkah tersebut mencerminkan respons terhadap dinamika harga minyak global. Penyesuaian dilakukan agar harga BBM tetap kompetitif dan berimbang bagi masyarakat.
Kebijakan ini sekaligus menjadi sinyal stabilisasi pasar energi nasional. Konsumen diharapkan dapat merasakan manfaat langsung dari koreksi harga tersebut. Awal tahun pun menjadi momentum penyesuaian perencanaan biaya transportasi.
Penurunan Harga BBM di Sejumlah Wilayah
Di wilayah Jawa Barat, penurunan harga terlihat cukup signifikan pada berbagai jenis BBM. Harga Pertamax turun Rp400 per liter menjadi Rp12.350 dari sebelumnya Rp12.750. Pertamax Green dan Pertamax Turbo masing-masing turun Rp350 per liter.
Untuk jenis diesel, penurunan harga juga tercatat cukup besar. Dexlite turun Rp1.200 per liter menjadi Rp13.500. Sementara Pertamina Dex mengalami penurunan Rp1.400 per liter menjadi Rp13.600.
Langkah ini memberikan dampak langsung bagi pengguna kendaraan bermesin diesel. Penyesuaian harga turut membantu sektor logistik dan transportasi. Efisiensi biaya operasional pun dapat lebih terjaga.
Kebijakan Penyesuaian Mengikuti Dinamika Global
Penyesuaian harga BBM dilakukan secara berkala mengikuti fluktuasi harga minyak dunia. Mekanisme ini bertujuan menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan harga jual. Dengan demikian, konsumen tetap memperoleh harga yang wajar.
Perubahan harga juga mempertimbangkan nilai tukar dan distribusi. Faktor-faktor tersebut menjadi bagian penting dalam perhitungan harga akhir BBM. Transparansi penyesuaian diharapkan meningkatkan kepercayaan publik.
Dengan harga terbaru, masyarakat dapat menyesuaikan kebutuhan bahan bakar di awal tahun. Perencanaan anggaran transportasi menjadi lebih terukur. Stabilitas harga menjadi salah satu kunci kenyamanan konsumen.
Daftar Harga BBM Pertamina Akhir Januari
Hingga akhir Januari 2026, harga BBM Pertamina masih mengacu pada penetapan awal bulan. Seluruh produk non-subsidi belum mengalami perubahan lanjutan. Harga tersebut berlaku di jaringan SPBU nasional.
Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter. Pertamax berada di level Rp12.500 per liter, sedangkan Pertamax Turbo Rp13.500. Pertamax Green tercatat Rp13.250 per liter.
Untuk bahan bakar diesel, Dexlite dijual Rp13.320 per liter. Pertamina Dex berada di harga Rp13.650 per liter. Daftar ini menjadi acuan utama konsumen dalam memilih BBM.
Harga BBM Operator Lain Tetap Stabil
Selain Pertamina, operator lain juga belum melakukan penyesuaian harga. Shell mempertahankan harga BBM hingga akhir Januari. Namun, ketersediaan beberapa produk dilaporkan terbatas di sejumlah SPBU.
Shell Super dijual Rp12.700 per liter dan Shell V-Power Rp13.190. Shell V-Power Diesel berada di Rp13.860 per liter. Sementara Shell V-Power Nitro+ dibanderol Rp13.480 per liter.
Di jaringan BP-AKR, harga BBM juga belum berubah. BP 92 dijual Rp12.500 per liter dan BP Ultimate Rp13.190. BP Ultimate Diesel tetap di Rp13.860 per liter.
Harga BBM Pertamina di Berbagai Wilayah
Harga BBM Pertamina berbeda menyesuaikan wilayah distribusi. Di Sumatera, harga Pertamax berkisar antara Rp12.500 hingga Rp12.800 per liter. Beberapa daerah khusus memiliki harga lebih rendah.
Wilayah FTZ seperti Sabang dan Batam mendapatkan harga khusus. Pertamax di FTZ Sabang dijual Rp11.500 per liter. Sementara di Batam, Pertamax berada di Rp11.850 per liter.
Di Jawa dan Bali, Pertamax dijual Rp12.350 per liter. Pertamax Turbo Rp13.400 dan Pertamax Green 95 Rp13.150. Harga tersebut juga berlaku di Nusa Tenggara Barat.
Nusa Tenggara Timur memiliki harga sedikit lebih tinggi. Pertamax dijual Rp12.650 per liter dan Pertamax Turbo Rp13.700. Dexlite dan Pertamina Dex masing-masing Rp13.800 dan Rp13.900.
Penyesuaian harga BBM di awal 2026 mencerminkan upaya menjaga keseimbangan energi nasional. Konsumen diharapkan dapat memanfaatkan informasi ini secara bijak. Stabilitas harga menjadi fondasi penting bagi aktivitas ekonomi masyarakat.