JAKARTA - Pasar properti nasional menunjukkan arah yang semakin menjanjikan memasuki tahun 2026.
Setelah melalui periode penyesuaian pascapandemi, berbagai sinyal pemulihan mulai terlihat jelas. Kondisi ini memunculkan optimisme baru bagi pelaku industri dan konsumen.
Pergerakan positif tersebut tidak hadir secara tiba-tiba. Kebijakan pemerintah dan pembangunan infrastruktur berperan besar dalam membentuk sentimen pasar. Dukungan ini memberi fondasi kuat bagi industri properti untuk kembali bertumbuh.
Kebijakan Fiskal Penopang Pemulihan
Salah satu faktor utama yang menjaga momentum pasar adalah perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah hingga 2027. Kebijakan ini memberi keringanan signifikan bagi masyarakat yang berencana membeli hunian. Terutama bagi keluarga muda dan end-user, insentif tersebut membuka peluang kepemilikan rumah.
Kehadiran stimulus fiskal membantu menjaga daya beli di tengah proses pemulihan ekonomi. Konsumen memiliki ruang lebih luas untuk mengambil keputusan jangka panjang. Situasi ini turut meningkatkan kepercayaan terhadap sektor properti.
Infrastruktur dan Daya Tarik Kawasan Penyangga
Selain kebijakan fiskal, pembangunan infrastruktur transportasi memberi dampak nyata. Rampungnya proyek MRT, LRT, dan ruas tol baru meningkatkan konektivitas antarkawasan. Hal ini membuat kawasan penyangga Jakarta seperti Bogor dan Tangerang semakin diminati.
Akses yang lebih mudah mendorong perubahan pola hunian masyarakat. Kawasan yang sebelumnya dianggap pinggiran kini memiliki nilai tambah. Infrastruktur menjadi katalis penting dalam pemerataan pertumbuhan properti.
Hunian TOD dan Strategi Pengembang
Hunian berbasis transit atau Transit Oriented Development kini menjadi pilihan utama konsumen. Konsep ini menjawab kebutuhan mobilitas dan efisiensi waktu. Kedekatan dengan transportasi publik menjadi nilai jual utama.
PT Winner Nusantara Jaya Tbk merespons tren tersebut dengan rencana ekspansi agresif. Perusahaan menilai momentum pasar 2026 sebagai peluang strategis. Langkah ini menunjukkan keyakinan terhadap permintaan hunian.
Direktur Utama WINR, Yusmen Liu, menyampaikan bahwa perusahaan akan meluncurkan lima proyek baru di Jabodetabek pada periode 2026–2027. Proyek tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan pasar yang berkembang. Fokus utama tetap pada aksesibilitas dan keterjangkauan.
Akses Pembiayaan dan Target Penjualan
Menurut Yusmen, akses pembiayaan menjadi kunci dalam memperluas pasar. Selain mengandalkan modal kerja, perusahaan menjalin kolaborasi dengan perbankan. Berbagai skema KPR disiapkan untuk menjangkau lebih banyak konsumen.
Pendekatan ini diharapkan mempermudah masyarakat dalam memiliki hunian. Skema pembiayaan yang fleksibel memberi rasa aman bagi pembeli. Strategi tersebut selaras dengan kondisi pasar segmen menengah ke bawah.
WINR menargetkan marketing sales sebesar Rp400 miliar dari proyek-proyek baru. Target tersebut mencerminkan optimisme pengembang terhadap daya beli masyarakat. Kepercayaan diri ini menjadi sinyal positif bagi industri secara keseluruhan.
Transformasi Pasar Properti
Country Head Knight Frank Indonesia, Wilson Kalip, menilai transformasi pasar properti tidak hanya terjadi pada rumah tapak. Segmen lain seperti hunian vertikal dan kawasan terpadu turut mengalami perkembangan. Perubahan preferensi konsumen mendorong inovasi produk.
Pasar properti kini bergerak lebih dinamis dan adaptif. Pengembang dituntut memahami kebutuhan mobilitas dan gaya hidup modern. Inovasi menjadi kunci untuk menjaga daya saing.
Dengan dukungan kebijakan, infrastruktur, dan strategi pengembang, pasar properti 2026 memiliki prospek cerah. Optimisme ini diharapkan berlanjut secara berkelanjutan. Properti tetap menjadi sektor penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional.