JAKARTA - Perkembangan psikologi anak pada usia dini merupakan fondasi penting bagi pembentukan kepribadian di masa depan.
Setiap fase usia memiliki tantangan dan kebutuhan emosional yang berbeda.
Pemahaman orang tua terhadap tahapan ini sangat menentukan keberhasilan anak dalam membangun rasa aman, percaya diri, serta kemampuan sosial sejak awal kehidupan.
Psikolog Novi Ernilawati menjelaskan bahwa perkembangan psikis anak sejak lahir hingga usia lima tahun dapat dipahami melalui tahapan yang dirumuskan oleh psikoanalis anak Erik Erikson.
Masa Awal Kehidupan Dan Pembentukan Kepercayaan
Tahap pertama perkembangan psikis terjadi pada usia nol hingga 18 bulan. Pada fase ini, anak mulai membangun rasa percaya atau ketidakpercayaan terhadap lingkungan sekitarnya.
Anak akan mengembangkan harapan positif ketika mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan respons yang konsisten dari orang tua atau pengasuh.
“Kurangnya hal-hal tersebut dapat mengembangkan ketidakpercayaan,” kata Novi mengutip keterangan pers BKKBN Ambon, Maluku.
Fase Otonomi Anak Usia Balita Awal
Memasuki usia 18 bulan hingga tiga tahun, anak berada pada tahap otonomi versus rasa malu dan ragu. Anak mulai menunjukkan keinginan untuk melakukan banyak hal sendiri.
Pada fase ini, peran orang tua sangat penting dalam memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar mandiri, seperti makan sendiri atau mengenakan pakaian.
“Jika tidak diajarkan kontrol diri dan mandiri, akan muncul rasa malu, ragu pada diri sendiri, dan rendah diri,” jelas Novi.
Inisiatif Anak Dan Tantangan Rasa Bersalah
Tahap berikutnya berlangsung pada usia tiga hingga lima tahun, ketika anak mulai mengembangkan inisiatif dan tujuan pribadi. Anak belajar menyeimbangkan kemampuan dengan keinginannya.
Di fase ini, anak kerap aktif bertanya, mencoba hal baru, serta menunjukkan imajinasi yang kuat. Dukungan orang tua menjadi kunci dalam membangun rasa percaya diri.
“Lingkungan sosial yang kurang mendukung dapat membuat anak kurang inisiatif dan menumbuhkan rasa bersalah,” kata Novi.
Pengaruh Lingkungan Dalam Perkembangan Anak
Selain tahapan usia, Novi menambahkan bahwa perkembangan anak tidak terjadi secara terpisah dari lingkungan. Setiap anak tumbuh dalam konteks sosial yang saling terkait.
Ia mengutip teori sistem ekologi dari Bronfenbrenner yang menekankan bahwa perkembangan individu merupakan hasil kombinasi kompleks dari berbagai faktor.
Faktor tersebut meliputi pengalaman pribadi, hubungan sosial, struktur sosial, budaya, serta dimensi waktu yang memengaruhi kehidupan anak.
Microsystem Hingga Mesosystem Dalam Kehidupan Anak
Dalam teori Bronfenbrenner, microsystem mencakup lingkungan terdekat anak, seperti orang tua, guru, dan pertemanan yang berinteraksi langsung setiap hari.
Mesosystem merupakan hubungan antar dua atau lebih microsystem, misalnya interaksi antara orang tua dengan guru atau keluarga dengan sekolah.
Kualitas hubungan pada sistem ini sangat memengaruhi stabilitas emosional dan perkembangan sosial anak.
Exosystem, Macrosystem, Dan Pengaruh Waktu
Exosystem meliputi lingkungan yang tidak berinteraksi langsung dengan anak, namun berdampak signifikan, seperti tempat kerja orang tua, media massa, dan lingkungan sekitar.
Macrosystem mencakup nilai budaya, kebijakan publik, dan sistem hukum yang membentuk cara masyarakat memperlakukan anak.
Sementara itu, chronosystem berkaitan dengan dimensi waktu, termasuk peristiwa sejarah dan trauma antargenerasi yang memengaruhi perkembangan individu. “Semua sistem ini saling terkait hingga akhirnya membentuk individu.”