Ketahanan Pangan Komunitas PNM Dorong Pemenuhan Gizi Keluarga Indonesia

Selasa, 27 Januari 2026 | 08:42:37 WIB
Ketahanan Pangan Komunitas PNM Dorong Pemenuhan Gizi Keluarga Indonesia

JAKARTA – Upaya memperkuat pemenuhan gizi masyarakat tidak dapat dilepaskan dari persoalan akses pangan yang merata dan berkelanjutan.

Di tengah dinamika harga bahan pokok serta perbedaan kondisi wilayah urban dan rural, ketahanan pangan berbasis komunitas dinilai menjadi pendekatan yang relevan untuk menjawab tantangan tersebut. 

Kondisi ini tercermin dari hasil Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang menunjukkan prevalensi stunting nasional pada anak usia bawah lima tahun turun menjadi 19,8 persen. Meski mengalami penurunan, angka tersebut masih berada di atas target nasional dan mengindikasikan adanya ketidakmerataan pemenuhan gizi seimbang di berbagai daerah. Stunting tetap menjadi isu krusial karena berdampak pada perkembangan kognitif serta kapasitas produktif generasi mendatang.

Dalam konteks inilah, peran lembaga pembiayaan dan pemberdayaan masyarakat menjadi penting untuk menghubungkan kebutuhan pangan dengan peningkatan kesejahteraan keluarga. PT Permodalan Nasional Madani (PNM) memosisikan diri sebagai bagian dari solusi melalui program berbasis komunitas yang mengintegrasikan produksi pangan, edukasi gizi, serta penguatan ekonomi rumah tangga.

Program Berbasis Komunitas untuk Ketahanan Pangan

PNM menghadirkan sejumlah inisiatif untuk mendorong kemandirian pangan keluarga, antara lain melalui program Rumah Pangan, Pekarangan Bergizi, dan Lorong Mekaar. Ketiga program ini dirancang untuk memanfaatkan potensi lokal sekaligus membangun kebiasaan produksi pangan secara mandiri di tingkat rumah tangga dan komunitas. Sepanjang tahun 2025, program ketahanan pangan PNM telah menjangkau 1.264 penerima manfaat yang tersebar di 27 titik Rumah Pangan.

Komoditas yang dikembangkan pun beragam, mulai dari ayam petelur, budidaya ikan, hingga sayuran dan buah-buahan. Pola ini memungkinkan keluarga tidak hanya mengandalkan pasar untuk memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga memperoleh sumber pangan langsung dari lingkungan sekitar. 

Selain mencukupi konsumsi harian, hasil budidaya tersebut dapat diolah atau dijual untuk menambah pendapatan keluarga. Dengan demikian, pendekatan PNM tidak hanya berorientasi pada aspek pangan, tetapi juga pada peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat.

Peran Perempuan dan Rumah Tangga dalam Produksi Pangan

Salah satu kelompok penerima manfaat program PNM adalah ibu-ibu nasabah Mekaar di wilayah Kopeng, Semarang. Melalui pendampingan di Rumah Pangan PNM, mereka mendapatkan pelatihan teknik budidaya yang sesuai dengan kondisi lokal. Kegiatan ini menjadi sarana belajar sekaligus ruang kolaborasi antaranggota komunitas dalam mengelola sumber daya pangan secara produktif.

Pengalaman langsung dirasakan oleh para peserta program yang kini mampu memanfaatkan hasil panen untuk kebutuhan keluarga. “Dengan adanya program ini, kami tidak hanya belajar teknik budidaya yang tepat, tetapi juga dapat memanfaatkan hasil panen sayur dan ayam petelur untuk mencukupi kebutuhan pangan dan gizi keluarga. Setelah kebutuhan rumah tangga terpenuhi, sebagian hasil panen juga bisa dijual untuk menambah penghasilan keluarga,” ujar Laksmi, salah satu nasabah yang aktif dalam kelompok budidaya sayur dan ayam petelur.

Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana ketahanan pangan dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi perempuan. Ketika rumah tangga mampu memproduksi pangan sendiri, risiko kerentanan akibat fluktuasi harga dapat ditekan, sementara kualitas konsumsi keluarga tetap terjaga.

Komitmen PNM terhadap Gizi dan Arah Kebijakan Nasional

Dari sisi perusahaan, PNM menegaskan bahwa penguatan ketahanan pangan keluarga merupakan bagian dari komitmen jangka panjang. Sekretaris Perusahaan PNM, Dodot Patria Ary, menyampaikan bahwa fokus pada pemenuhan gizi masyarakat sejalan dengan agenda pembangunan nasional. 

“Kami melihat kebutuhan gizi masyarakat sangat penting, dan hal ini selaras dengan Asta Cita Presiden Bapak Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Kami terus meningkatkan program-program untuk memberikan kebutuhan gizi masyarakat di desa-desa melalui program Rumah Pangan PNM. Kami berharap setiap penerima manfaat dapat berdaya secara ekonomi dan gizi,” ujar Dodot.

Melalui pernyataan tersebut, terlihat bahwa program PNM tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Pendekatan yang digunakan tidak hanya bersifat bantuan, tetapi juga mendorong kemandirian masyarakat melalui pembelajaran dan praktik langsung di lapangan.

Dampak Sosial dan Prospek Jangka Panjang

Implementasi program Rumah Pangan, Pekarangan Bergizi, dan Lorong Mekaar menunjukkan bahwa pemberdayaan berbasis komunitas dapat menciptakan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat desa. Model ini memadukan ketersediaan pangan bergizi berbasis lokal, pelatihan teknis, serta peluang ekonomi dari hasil usaha. Dengan kombinasi tersebut, keluarga tidak hanya memperoleh asupan gizi yang lebih baik, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup melalui tambahan penghasilan.

Dalam jangka panjang, pendekatan ini berpotensi berkontribusi pada penurunan angka stunting secara lebih merata di berbagai wilayah. Ketika keluarga memiliki akses langsung terhadap pangan bergizi dan pemahaman tentang pengelolaannya, risiko kekurangan gizi dapat ditekan. Selain itu, aktivitas produksi pangan berbasis komunitas juga memperkuat jejaring sosial dan rasa saling mendukung antaranggota masyarakat.

Program PNM membuktikan bahwa ketahanan pangan tidak semata-mata soal ketersediaan bahan pokok, melainkan juga tentang bagaimana masyarakat diberdayakan untuk mengelola sumber daya yang ada. Dengan terus memperluas jangkauan dan memperkuat pendampingan, strategi ini diharapkan mampu menjadi salah satu pilar dalam membangun generasi yang lebih sehat dan produktif. 

Melalui sinergi antara kebutuhan gizi, penguatan ekonomi, dan partisipasi komunitas, ketahanan pangan berbasis masyarakat dapat menjadi fondasi penting bagi pembangunan sosial yang berkelanjutan di Indonesia.

Terkini