JAKARTA - Pergerakan harga emas kembali menarik perhatian pelaku pasar global setelah logam mulia ini mencatatkan penguatan pada perdagangan Kamis.
Kenaikan tersebut memberi sinyal pemulihan setelah tekanan tajam sehari sebelumnya. Namun di balik rebound tersebut, pasar emas masih dibayangi dua risiko besar yang berpotensi memicu volatilitas tinggi dalam waktu dekat, sehingga investor dituntut tetap berhati-hati dalam mengambil posisi.
Penguatan harga emas terjadi di tengah suasana pasar yang belum sepenuhnya stabil. Faktor makroekonomi Amerika Serikat menjadi sorotan utama, khususnya menjelang rilis data ketenagakerjaan yang dinilai krusial. Di saat yang sama, proses penyesuaian indeks komoditas global atau rebalancing turut menambah tekanan jangka pendek, membuat pergerakan emas rawan berbalik arah sewaktu-waktu.
Pergerakan Harga Emas Setelah Tekanan Tajam
Harga emas ditutup menguat ke posisi US$ 4.478,27 per troy ons atau naik 0,58% pada perdagangan Kamis (8/1/2025). Kenaikan ini menjadi angin segar setelah sehari sebelumnya harga emas mengalami penurunan tajam hingga 1%. Rebound tersebut menunjukkan masih adanya minat beli di tengah koreksi yang cukup dalam.
Meski demikian, penguatan ini belum sepenuhnya menghapus risiko koreksi lanjutan. Pada perdagangan Jumat (9/1/2025) hingga pukul 06.31 WIB, harga emas tercatat melemah tipis 0,07% ke level US$ 4.475,04 per troy ons. Pergerakan ini menandakan pasar masih berada dalam fase wait and see sambil menanti katalis berikutnya.
Ancaman Rebalancing Tekan Volatilitas Pasar
Salah satu faktor yang menjadi sorotan adalah proses rebalancing tahunan di pasar komoditas global. Rebalancing dilakukan untuk menyesuaikan bobot komoditas agar selaras dengan kondisi pasar terkini. Proses ini kerap memicu volatilitas jangka pendek, terutama pada komoditas logam mulia seperti emas dan perak.
Tekanan dari rebalancing diakui berpotensi membatasi ruang kenaikan harga emas dalam beberapa sesi ke depan. Bob Haberkorn, senior market strategist di RJO Futures, menyebut bahwa emas dan perak kemungkinan akan mengalami tekanan selama proses penyesuaian indeks berlangsung. Namun, ia juga menilai kondisi tersebut bisa membuka peluang menarik setelah tekanan mereda.
"Untuk beberapa sesi ke depan akan ada tekanan pada emas dan perak selama penyesuaian indeks komoditas berlangsung," kata Bob Haberkorn kepada Reuters. Ia menambahkan, setelah situasi mereda hingga pertengahan pekan depan, kondisi tersebut bisa menjadi peluang bagus bagi posisi long untuk kembali masuk ke pasar.
Data Tenaga Kerja AS Jadi Penentu Arah
Selain rebalancing, fokus utama investor kini tertuju pada rilis data nonfarm payrolls Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pada Jumat. Data ini dinilai sangat penting karena menjadi salah satu indikator utama dalam membaca arah kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve. Hasil data tenaga kerja akan sangat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap suku bunga.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters, penambahan lapangan kerja pada Desember diperkirakan mencapai 60.000, lebih rendah dibandingkan 64.000 pada November. Sementara itu, tingkat pengangguran diproyeksikan turun tipis ke 4,5% dari sebelumnya 4,6%. Angka-angka ini mengindikasikan adanya pelonggaran tekanan di pasar tenaga kerja AS.
Ekspektasi Suku Bunga Dukung Emas
Ekspektasi melunaknya pasar tenaga kerja AS memperkuat pandangan bahwa The Fed memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter. Saat ini, pasar memperkirakan adanya dua kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut secara historis menjadi sentimen positif bagi emas.
Sebagai aset tanpa imbal hasil atau non-yielding, emas cenderung diuntungkan ketika suku bunga turun. Biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah, sehingga minat investor biasanya meningkat. Faktor ini menjadi salah satu alasan mengapa emas tetap memiliki daya tarik meski dibayangi volatilitas jangka pendek.
Sinyal Tambahan Dari Data Ekonomi AS
Data ekonomi AS terbaru turut memperkuat narasi pelemahan tekanan di pasar tenaga kerja. Klaim pengangguran tercatat meningkat secara moderat pada pekan lalu. Sebelumnya, laporan JOLTS menunjukkan jumlah lowongan kerja turun lebih besar dari perkiraan pada November.
Selain itu, pertumbuhan payroll sektor swasta pada Desember juga tercatat berada di bawah proyeksi analis. Kombinasi data tersebut semakin memperkuat asumsi bahwa ekonomi AS mulai melambat secara terkendali, sebuah kondisi yang sering kali mendukung pergerakan harga emas dalam jangka menengah.
Risiko Geopolitik Jadi Penopang Jangka Menengah
Di luar faktor ekonomi, risiko geopolitik global masih menjadi penopang utama harga emas. Ketegangan di berbagai kawasan dunia terus menambah ketidakpastian. Salah satu perkembangan terbaru adalah laporan bahwa Amerika Serikat menyita dua kapal tanker minyak yang terkait Venezuela di Samudra Atlantik.
Situasi geopolitik seperti ini kerap mendorong investor mencari aset aman, termasuk emas. Ketidakpastian global yang berlarut-larut membuat emas tetap relevan sebagai instrumen lindung nilai, terutama di tengah dinamika ekonomi dan politik internasional yang sulit diprediksi.
Sejalan dengan kondisi tersebut, HSBC memperkirakan harga emas berpotensi menembus level US$ 5.000 per ons pada paruh pertama 2026. Proyeksi ini didorong oleh risiko geopolitik yang berkelanjutan serta meningkatnya beban utang fiskal global. Meski begitu, dalam jangka pendek, investor tetap perlu mencermati dua “badai” utama yang bisa mengguncang pasar emas.